NEWS UPDATE :  

Berita

Pandemi Melanda Never Give Up

Ketika 17 Maret 2020 Pemerintah Pinrang akhirnya menghentikan Tatap Muka di SEkolah karena virus Corona (Covid-19). Hampir semua berita di media massa, baik online, cetak maupun elektronik membahas virus Corona ini. Tidak terkecuali pula di media sosial, sangat gaduh. Bahkan pembicaraan itu tidak terlepas pula di dusun-dusun, warung kopi, kantor-kantor dan di masjid sebelum khutbah berlangsung (yang pada akhirnya semua aktifitas berkumpulnya orang tersebut dibatasi, bahkan dilarang).

Covid-19 menyebabkan perekonomian negara dan masyarakat luluh-lantak. Tidak hanya itu, hampir semua sektor terkena imbas dari mewabahnya Covid-19 ini. Mulai dari pariwisata, transportasi, sosial, keagamaan, pendidikan dan sebagainya. Di sektor pendidikan, pembelajaran tatap muka di kelas beralih ke pembelajaran dalam jaringan atau daring (online) di rumah masing-masing. Tetapi, dari itu semua kita harus bisa mengambil ibrah dari adanya Covid-19 ini.

Kita harus bisa mengambil hikmah  kebijaksanaan yang lahir karena seseorang bertindak sesuai dengan ilmunya, dan dengan cara yang tepat, sesuai dengan situasi yang dihadapi yaitu  situasi PAndemi ini. Yang harus selalu kita yakini Allah tidak pernah berbuat dzalim kepada hamba nya dan kita sebagai orang berakal dapat mengambil pelajaran.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HRTirmidzi). Maka, hikmah adalah hal yang sangat penting dan bahkan bisa bisa kita ambil di mana saja, salah satunya pada sesuatu yang kita anggap musibah.

Kebanyakan orang mungkin sepakat bahwa wabah Covid-19 yang membuat panik dan takut ini mereka anggap musibah, bencana, pandemi, atau pageblug. Boleh-boleh saja. Tetapi, jika kita hanya berhenti pada anggapan itu, tanpa bisa belajar memaknai dan mengambil hikmah dibalik semua ini, maka kita akan semakin terpuruk.

Berikut beberapa hikmah yang bisa kita ambil dan kita renungkan dari Covid-19 :

1. Keimanan dan Ketaqwaan Kepada Tuhan
Ketika virus Covid-19 ini membanjiri dunia, juga Indonesia, sebagian besar manusia sepertinya belum banyak menyadari, betapa kita semua kerdil di genggaman kebesaran-Nya. Semua informasi yang beredar hanya bising pemberitaan, minim muhasabah kepada Allah. Manusia sangat takut dengan pemberitaan media tentang wabah Coronavirus, tetapi (mungkin) amat sedikit yang takut terhadap pemberitaan Allah di Al-Qur’an tentang dahsyatnya Neraka. Sampai detik ini, orang yang terinfeksi virus Covid-19 ini terus bertambah. Pengobatan secanggih apapun belum mampu menemukan vaksin Covid-19. Lantas, kepada siapakah kita berlindung? Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Allah Rabbul ‘Alam 

2. Kesombongan dan Keangkuhan Sirna oleh Makhluk Ultra Kecil
Di jaman modern ini, banyak yang menyangka harta benda dan kekayaan adalah sumber kebahagiaan. Kebanyakan, orang hanya mengejar kekayaan dan kekuasaan berlebih sehingga bersifat angkuh,  Tapi saat ini kita harus mulai sadar, bahwa negara superpower pun seperti Amerika tumbang oleh Pandemi ini. Makhluk  yang sangat-sangat kecil, Coronavirus. Itu baru makhluk super-mikro yang tidak terlihat mata dan ternyata tidak bisa Menggagalkan semua planning . Bagaimana dengan dzat Maha Besar yang juga tidak terlihat mata jasad? Apakah juga akan kita lupakan?

3. Betapa Nikmatnya Kesehatan

Ketika kita sakit, semua kesombongan, kekayaan, dan kepintaran yang kita miliki seolah tak ada guna. Yang kita inginkan hanya satu, yaitu bisa beraktifitas serta beribadah kembali dengan sehat. Sehat adalah nikmat Allah yang sangat besar. Namun seringkali kita lalai dan kurang mensyukuri nikmat agung tersebut. Banyak waktu yang kita sia-siakan. Kanjeng Nabi Muhammad juga telah mengingatkan kita untuk memanfaatkan 5 perkara sebelum 5 perkara. Diantaranya adalah manfaatkan sehat sebelum sakitmu. Semoga kita selalu mensyukuri semua nikmat Allah dan menjaga kesehatan kita dengan beribadah dan beraktifitas yang bermanfaat.

4. Mengingatkan Untuk Menjaga Kebersihan dan Kesucian
Setelah Covid-19 ini mencuat, kampanye mengenai cuci tangan menjadi sangat deras. Berbagai fasilitas umum seperti sekolah, stasiun, bank, kantor-kantor pemerintahan menyediakan fasilitas cuci tangan dan hand sanitizer. Para pemuka agama juga menyerukan untuk tetap menjaga wudhu’, untuk menjaga kebersihan dan kesucian. Hal ini untuk mematikan virus dan bakteri yang mungkin menempel pada tubuh kita. Ternyata, Covid-19 mengingatkan kembali kepada kita untuk menjaga kebersihan, dan kesucian.

5. Merekatkan kembali Hubungan Keluarga
Covid-19 ‘memaksa’ dunia pendidikan untuk memindahakn kelas-kelasnya ke rumah masing-masing. Siswa diberikan jam belajar di rumah dengan metode dalam jaringan (daring) dengan memanfaatkan aplikasi-aplikasi belajar online yang disediakan oleh sekolah, Dinas Pendidikan dan Kemendikbud. Guru juga diberikan kebijakan Work From Home (WFH) walaupun di Surabaya belum berlaku penuh. Hikmah yang bisa diambil adalah, para orangtua bisa mendampingi belajar putra-putrinya secara langsung. Sangat banyak waktu yang bisa diberikan orangtua kepada anak, dan harapannya para orangtua juga semakin mengerti dan menghargai peran seorang guru di sekolah.

6. Terpaksa’ untuk Melek IT

Kata terpaksa disini saya beri tanda petik, berarti mengandung makna konotatif. Artinya, dengan pembelajaran dilakukan di rumah saat ini, kita mau tidak mau harus paham lebih mendalam mengenai perkembangan teknologi yang digunakan di pendidikan. Ambil contoh di Surabaya, kita harus mengenal dan mengoperasikan Microsoft Office 365, Quizziz, foto presensi dengan Geotag, Ruang Guru dan e-Learning milik sekolah sendiri. Para orangtua yang mendampingi belajar anaknya pun juga pasti akan bersentuhan dengan aplikasi-aplikasi tersebut. Walaupun pada awalnya terasa ribet, tetapi perkembangan teknologi harus kita kuasai, dan itu adalah suatu keniscayaan di era Revolusi 4.0 ini.

Jadi demikianlah Semua Ada Hikmahnya dan Boleh jadi sesuatu yang kita anggap tidak baik. ,tetapi baik di Sisi Allah Rabbulalamin

Wassalamu Alaikum

Admin